Minggu, 25 Januari 2015

Fungsi A, S, P, M pada Fotografi Digital

Dalam era dunia fotografi digital sekarang ini, para fotografer muda sampai ke fotografer profesional banyak dimanjakan oleh fitur-fitur kamera digital single lens reflex atau DSLR yang semakin canggih seiring kemajuan jaman.  Banyak kamera dengan fitur yang dijaman kamera analog (kamera Single lens reflex) tidak bisa dengan mudah didapatkan. Namun pada kali ini saya akan membahas mengenai fitur kamera yang sudah lama melekat pada dunia fotografi digital mengenai pengaturan dalam pemilihan mode fotografi.
Program mode (P).
Huruf P disini kadang artinya diplesetkan sebagai ‘Pemula’ karena sebenarnya di mode ini hampir sama seperti memakai mode AUTO (oleh karena itu mode P ini relatif aman untuk dipakai sebagai mode standar sehari-hari). Bila pada mode AUTO semua parameter ditentukan secara otomatis oleh kamera, maka pada mode P ini meski kamera masih menentukan nilai shutter dan eksposure secara otomatis, namun kita punya kebebasan mengatur nilai ISO, white balance, mode lampu kilat dan Exposure Compensation (Ev). Tampaknya tidak ada yang istimewa di mode P ini, tapi tunggu dulu, beberapa kamera ada yang membuat mode P ini lebih fleksibel dengan kemampuan program-shift. Dengan adanya program-shift ini maka kita bisa merubah variasi nilai pasangan shutter-aperture yang mungkin namun tetap memberikan eksposure yang tepat. Bila kamera anda memungkinkan program-shift pada mode P ini, cobalah berkreasi dengan berbagai variasi pasangan nilai shutter-eksposure yang berbeda dan temukan perbedaannya.
Aperture-priority mode (Av).
Mode ini optimal untuk mengontrol depth-of-field (DOF) dari suatu foto, dengan cara mengatur nilai bukaan diafragma lensa (sementara kamera akan menentukan nilai shutter yang sesuai).
Aturlah diafragma ke bukaan maksimal (nilai f kecil) untuk mendapat foto yang DOFnya sempit (objek tajam sementara latar belakang blur) dan sebaliknya kecilkan nilai diafragma (nilai f tinggi) untuk mendapat foto yang tajam baik objek maupun latarnya. Biasanya pada lensa kamera saku, bukaan diafragma maksimal di f/2.8 (pada saat wide maksimum).
Shutter-priority mode (Tv).
Mode ini kebalikan dari mode Av, dimana kita yang menentukan kecepatan shutter sementara kamera akan mencarikan nilai bukaan diafragma yang terbaik. Mode ini berguna untuk membuat foto yang beku (freeze) atau blur dari benda yang bergerak. Dengan memakai shutter amat cepat, kita bisa menangkap gerakan beku dari suatu momen olahraga, misalnya. Sebaliknya untuk membuat kesan blur dari suatu gerakan (seperti pada kendaraan di malam hari) bisa dengan memakai shutter lambat. Memakai shutter lambat juga bermanfaat untuk memotret low-light apabila sumber cahaya yang ada kurang mencukupi sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk kamera menangkap cahaya. Yang perlu diingat saat memakai shutter cepat, cahaya harus cukup banyak sehingga hasil foto tidak gelap. Sebaliknya saat memakai shutter lambat, resiko foto blur akibat getaran tangan akan semakin tinggi bila kecepatan shutter diturunkan. Untuk itu gunakan fitur image stabilizer (bila ada) atau gunakan tripod. Sebagai catatan saya, nilai kecepatan shutter mulai saya anggap rendah dan cenderung dapat mengalami blur karena getaran tangan adalah sekitar 1/30 detik, meski ini juga tergantung dari cara dan kebiasaan kita memotret serta posisi jarak fokal lensa. Pada kecepatan shutter sangat rendah di 1/8 detik, pemakaian stabilizer sudah tidak efektif lagi dan sebaiknya gunakan tripod.
Manual mode (M)
Di level mode full-manual ini, fotograferlah yang bertugas sebagai penentu baik nilai shutter dan aperture. Light-meter pada kamera tetap berfungsi, namun tidak digunakan untuk mengatur nilai eksposure secara otomatis, melainkan hanya sebagai pembanding seberapa jauh eksposure yang kita atur mendekati eksposure yang diukur oleh kamera. Di mode ini dibutuhkan pemahaman akan eksposure yang baik, dalam arti fotografer harus mampu untuk mengenal kondisi cahaya pada saat itu dan dapat membayangkan berapa nilai shutter dan aperture yang diperlukan. Bila variasi kedua parameter ini tidak tepat, niscaya foto yang dihasilkan akan terlalu terang atau terlalu gelap. Namun bila sukses memakai mode manual ini, kita bisa mendapat foto yang memiliki eksposure yang baik melebihi foto yang diambil dengan mode AUTO, Program, Aperture-priority ataupun Shutter-priority. Contohnya pada saat mengambil foto sunset di pantai dimana dibutuhkan feeling yang tepat akan eksposure yang diinginkan.
Dengan memahami fungsi-fungsi dari fitur manual pada kamera, diharapkan kita mau mencoba-coba berkreasi dengan fitur tersebut dan mendapat hasil yang memuaskan. Selamat berkreasi..

Sabtu, 24 Januari 2015

Picture Style & Picture Control




   Keuntungan era fotografi digital salah satunya adalah kemudahan untuk mengolah secara digital setiap foto yang dihasilkan oleh kamera, bahkan sebelum foto diambil kita sudah bisa menentukan akan dibuat seperti apa ‘gaya’ yang kita sukai, misalnya seberapa tajam, seberapa kontras dan seberapa pekat warna yang akan kita inginkan. Hal semacam ini dinamakan ‘Picture Style’ (tiap kamera mungkin akan berbeda istilah) dan semestinya kita bisa memakai fasilitas ini dengan baik supaya meminimalisir pengolahan foto di komputer nantinya (olah digital).

Picture Style (pada kamera Canon), atau Picture Control (pada kamera Nikon) merupakan fitur yang memungkinkan kita mengatur parameter gambar yang akan diambil dan disimpan dalam format JPG. Jadi pengaturan ini tidak akan berpengaruh apabila kita memotret memakai format file RAW. Kamera digital biasa seperti kamera saku tidak banyak memberi keleluasaan kita untuk menentukan dan memodifikasi parameter pengolahan foto. Umumnya mereka hanya memberi beberapa opsi dasar seperti Standar, Vivid dan Natural. Pada kamera yang lebih canggih (prosumer atau DSLR) membolehkan kita untuk memaksimalkan hasil olahan foto sehingga bagi yang tidak mau repot mengolah di komputer, foto hasil jepretan kita bisa langsung dipamerkan atau dicetak. Pilihan yang disediakan kamera untuk mengolah foto pada dasarnya hanya merubah beberapa parameter dasar berikut ini :

Sharpening (ketajaman) : trik manipulasi digital untuk membuat gambar tampak lebih tajam 
Contrast (kontras) : seberapa lebar perbedaan antara area terang dan gelap dari sebuah gambar 
Saturation (kepekatan warna) : seberapa pekat warna dalam sebuah gambar 
Brightness (keterangan) : pengaturan tingkat keterangan / kecerahan dari sebuah gambar 
Hue (tonal warna) : pergeseran warna untuk pengaturan akurasi warna yang lebih presisi 

Dari lima parameter pengaturan di atas bisa dihasilkan berbagai kombinasi yang bisa disesuaikan untuk bermacam kebutuhan, maupun selera si fotografer. Untuk mengakomodir beberapa kondisi umum, pihak produsen kamera sudah menyediakan preset yang sudah dioptimalkan untuk :

Standard : hasil foto dengan ketajaman, kontras dan saturasi yang dinaikkan sampai batas yang bisa diterima secara umum (pilihan ini juga menjadi style default dari kamera) 

Portrait : dioptimalkan untuk menghasilkan tonal kulit manusia lebih akurat, brightness di set lebih tinggi dengan ketajaman yang cenderung kurang (agak soft) guna mencegah kerutan atau jerawat di wajah terlalu tampak jelas 

Landscape : dioptimalkan untuk foto pemandangan dengan ekstra ketajaman dan ekstra kontras dan ekstra peningkatan warna di daerah hijau dan biru sehingga foto pemandangan nampak lebih ‘hidup’
Vivid (hanya di Nikon) : meningkatkan kepekatan warna menjadi lebih kuat daripada warna aslinya, juga meningkatkan ketajaman dan kontras untuk hasil foto yang lebih berwarna dibanding warna aslinya 

Neutral : hasil foto tidak diolah, semua kendali dibuat flat sehingga memudahkan untuk diolah lagi di komputer 

Faithful (hanya di Canon) : hampir seperti Standard namun kamera berusaha menjaga warna tetap se-alami warna aslinya (kalau di standard saturasi warna sudah lebih ditingkatkan) 

Monochrome : dengan menghilangkan elemen warna, didapatlah foto dengan gradasi warna hitam putih (grayscale) untuk kebutuhan tertentu, dimana pengaturan ketajaman dan kontras akan berpengaruh pada nuansa hitam putih yang ingin ditonjolkan. 


Kamera modern bahkan membolehkan kita untuk memodifikasi lagi preset yang sudah dibuat, juga menyediakan beberapa custom style yang bisa disimpan untuk kondisi khusus. Bila mau, kita juga bisa membuat berbagai style melalui aplikasi komputer, misalnya Canon punya Picture Style Editor dan Nikon juga punya Picture Control Utility. Kini bahkan sudah banyak dijumpai seseorang yang membuat sendiri sebuah pengaturan Picture Style lalu dibagikan bahkan diperjualbelikan, cukup dengan mendownload atau di copy di memory card maupun melalui komputer yang tersambung ke kamera (misal dengan EOS Utility). File untuk Canon berekstensi .pf2 dan untuk Nikon adalah .ncp dan berukuran sangat kecil (di bawah 100 byte saja).

Jumat, 23 Januari 2015

Sekilas tentang Metering



       Dalam dunia fotografi istilah metering adalah proses mengukur pencahayaan agar menghasilkan foto yang baik. Metering adalah proses dalam fotografi yang bisa diotomatiskan selain white balance. Jd, kalau bicara soal otomatis atau manual, sebenarnya cuma soal dua ini.
   
    Metering sebenarnya sangat kecil porsinya dalam membentuk sebuah foto karena ada 3 faktor yang lebih dominan: komposisi, angle dan moment. Walau porsinya kecil dan bisa dikoreksi dalam batas tertentu, metering adalah pintu masuk ke sebuah foto. Kesalahan metering yang masih bisa dikoreksi dengan baik adalah jika overeksspose maksimal 1 stop, dan kalau under ekspose kadang masih bisa 2 stop.

Belajar metering dimulai dengan membaca buku manual kamera. Kuasai tombol-tombol dan bagian yang berhubungan dengan metering ini. Metering akan sangat mudah kalau pemandangan atau obyek yang akan dipotret cahayanya rata, artinya tak ada yg terlalu terang, tidak ada yang terlalu gelap.

Memulai kegiatan metering dilakukan dengan memilih metoda apa yang akan dipakai. Secara umum, ada 3 macam cara metering (pada gambar disamping ditampilkan macam-macam metering, pengukur cahaya ditandai dengan warna merah). Namun di kamera-kamera yg baru, ada beberapa metode tambahan yg sebenarnya hanya variasi dari yang 3 metode itu, yaitu :

1. Matrix (atau dikenal juga sebagai Average atau Evaluative), yaitu mengukur area pemotretan dengan merata-ratakan cahayanya. Metering metode ini menganalisa seluruh bidang yang difoto lalu membuat kesimpulan. Beda kamera ada beda hasil, walau bedanya sedikit.

2. Center Weight, Kalau Matrix merata-rata seluruh area yang difoto, Center Weight juga merata-rata tetapi hanya sekitar 40% pada bagian tengah area yang difoto.

3. Spot, yaitu mengukur pada sebuah titik kecil yang letaknya bisa dipilih sesuai selera fotografernya.

Sebelum melangkah lebih jauh , mari kita memahami apa yang dilakukan kamera saat melakukan metering. Saat melakukan metering, sang kamera mengukur “kecerahan” yang “dilihatnya”, lalu menghitung diafragma dan kecepatan rana (shutter) berapa yang diperlukan. Sekarang saya ingin memastikan, apakah Anda sudah tahu cara memakai lightmeter di kamera untuk melakukan metering ? Buka buku manual!.

Gambar disamping adalah salah satu contoh penggunakan lightmeter di kamera, yaitu pada bagian bar kecil yang bergerak dari -2 menuju +2 (di bagian tengah) karena perubahan shutter speed (di bagian kiri). Ketika posisi bar pada angka -2, artinya adalah underekspose (foto terlalu gelap). Ketika di +2, artinya adalah overekspose (terlalu terang). Yang paling seimbang adalah di posisi tengah.

dari apa yang kita sudah bahas diatas, kita dapat menyimpulkan bahwa:
1. mode evaluative/matrix cocok untuk dipakai sehari-hari, apalagi bila area yang difoto relatif rata pencahayaannya

2. bila ingin mendapat akurasi eksposure yang baik di bagian tengah foto, gunakan center weight

3. center weight juga cocok dipakai bila ada backlight di belakang objek foto

4. gunakan spot meter bila kita gagal mendapat eksposure yang tepat pada objek foto memakai mode lainnya

5. bila kamera anda tidak ada mode spot meter, alternatifnya gunakanpartial metering (seperti EOS 1000D)


6. bila eksposure yang diberikan kamera masih belum memuaskan, siasati dengan bermain Ev ke arah plus (terang) atau minus (gelap)


7. banyak berlatih dengan berbagai mode metering dan amati perbedaannya








Minggu, 18 Januari 2015

Fotografi Dasasr 1 Triangle Exposure - Segitiga Pencahayaan. (ISO)


Pengertian ISO dalam Fotografi



  Dalam dunai fotografi ada fitur yang sering disebut dengan sebutan ISO atau ASA, fitur ini bisa diartikan sebagai tingkat kesensitifitasan sebuah film terhadap cahaya. Parameter ISO diukur dengan menggunakan angka, mungkin Anda pernah melihat pada film tertera angka 100, 200, 400, 800, dan lain-lain. Semakin rendah angka atau jumlah ISO yang tertera berarti semakin rendah juga sensitifitas film dan lebih halus juga grain atau noise yang dihasilkan oleh film tersebut.

  Dalam fotografi digital sekarang ini ISO mengukur sensitifitas dari sensor kamera. Prinsip yang digunakan sama dengan apa yang berlaku pada fotografi film, semakin rendah angka ISO maka semakin rendah juga tingkat ke-sensitifan kamera terhadap cahaya, dan semakin sedikit grain atau noise yang dihasilkan. Pengaturan ISO tinggi biasanya digunakan untuk mendapatkan kecepatan rana yang cepat pada kondisi ruangan yang kekurangan cahaya atau gelap, contoh: pada event olah raga indoor dan Anda ingin membekukan gerakan aksi para atlet, dan konsekuensinya adalah hasil jepretan yang memiliki noise. Dibawah ini merupakan ilustrasi dari hasil pemotretan dengan menggunakan ISO 50, 100, 200 dan 400.
  
  ISO 100 pada umumnya diterima sebagai ukuran ISO yang normal dan akan memberikan hasil yang memuaskan, sedikit noise atau grain. Kebanyakan orang lebih memilih untuk mengatur ISO pada kamera mereka dengan 'Auto Mode', dimana kamera akan menentukan pengaturan ISO yang tepat berdasarkan kondisi pada saat pemotretan (setting secara otomatis serendah yang kamera bisa) tetapi kebanyakan kamera juga memfasilitasi Anda untuk menentukan pengaturan ISO Anda sendiri.

  Ketika Anda ingin memiliki kendali penuh terhadap kamera, dan lebih memilih pengaturan ISO secara manual, Anda akan menjumpai bahwa itu akan berpengaruh terhadap aperture serta shutter speed, dan pengaturan ketiga-nya harus diselaraskan untuk mendapatkan exposure yang tepat. Sebagai contoh, jika Anda berniat meninggikan ISO dari 100 ke 400 maka Anda akan mendapatkan shutter speed lebih atau atau diafragma / aperture yang lebih kecil.

Ketika memilih pengaturan ISO alangkah lebih baiknya menanyakan hal-hal dibawah ini pada diri Anda sendiri:
1. Cahaya - Apakah subyek foto cukup cahaya?
2. Grain - Apakah Anda memang menginginkan foto dengan sedikit grain atau foto rendah noise?
3. Tripod - Apakah Anda sedang menggunakan tripod?
4. Subyek gerak - Apakah subyek foto Anda bergerak atau diam?

  Jika ternyata subyek foto cukup cahaya, Anda ingin sedikit noise, menggunakan tripod, dan subyek Anda juga diam, kami rekomendasikan Anda untuk menggunakan pengaturan ISO rendah.
Jika Anda dalam kondisi kurang cahaya, dan memang menginginkan nuansa noise/grain, tidak menggunakan tripod, atau subyek foto bergerak, Anda mungkin sebaiknya mempertimbangkan untuk meninggikan ISO yang berdampak pada kecepatan shutter yang lebih tetapi masih terexpose dengan baik. Konsekuensi dari meninggikan ISO ini tentu adalah hasil foto Anda akan lebih grain/noise

Berikut ini adalah contoh situasi-situasi yang mungkin membutuhkan ISO tinggi :
1. Even olah raga indoor - subyek foto bergerak cepat dan Anda memiliki cahaya yang kurang
2. Konser musik - kurang cahaya dan sering kali tidak boleh menggunakan flash
3. Galeri seni, gereja, dan lain lain - Kebanyakan galeri memiliki peraturan yang melarang penggunaan flash, dan ruangan indoor bisa dipastikan kurang cahaya.
4. Pesta ulang tahun - Penggunaan flash ketika klien yang berulang tahun sedang meniup lilin pasti akan merusak suasana bukan?

  ISO merupakan aspek penting dalam fotografi digital dan untuk lebih memahaminya, Anda harus menguasai bagaimana melakukan pengaturannya pada kamera Anda. Lakukan percobaan atau eksperimen dengan memotret menggunakan pengaturan ISO yang berbeda, lihat bagaimana dampaknya terhadap foto-foto Anda.

Fotografi Dasasr 1 Triangle Exposure - Segitiga Pencahayaan. (Shuter Speed)


SHUTTER SPEED DAN PENERAPANNYA DALAM FOTOGRAFI

  Shutter speed atau sering disebut dengan kecepatan rana merupakan salah satu dari 3 fungsi dasar pencahayaan pada kamera. Aperture/bukaan, kecepatan film/ISO, dan shutter speed / kecepatan rana bekerja sama dalam menyesuaikan seberapa banyak cahaya yang ditangkap oleh sensor/film dan bagaimana cahaya tersebut direkam. Lebih mudahnya, shutter speed adalah waktu antara kita memencet tombol shutter di kamera sampai tombol ini kembali ke posisi semula.


  Shutter speed merupakan salah satu kontrol penting yang mendasar pada kamera. shutter speed mengatur lama waktunya diafragma/rana terbuka. Dengan kata lain mengatur lama waktunya sensor digital atau film terkena cahaya. Shutter speed diukur dalam detik dan settingnya adalah kelipatan 2. Misalnya sebagai berikut : 1/2000 detik (sangat cepat), 1/1000, 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30, 1/15, 1/8, 1/4, 1/2, 1, 2, 4 dan 8 detik (sangat lambat). Bahkan kamera modern sekarang shutter speed ada yang sangat lambat sampai 30 detik dan ada juga fitur bulb yaitu rana akan terbuka terus sesuai kemauan kita (membuka dan menutup secara manual). Selain itu juga dilengkapi fitur pilihan 1/2 atau 1/3 stop sehingga memungkinkan kita untuk merapatkan setiap kenaikan shutter speed.


   Shutter speed mempunyai efek lain selain dari fungsi utama tersebut. Semakin cepat kecepatan yang kita pakai, maka efek freezing-nya semakin kuat (membekukan gerakan). Semakin lambat kecepatannya, efek dinamisnya yang akan muncul.

    Untuk lebih mudah dalam memahami kecepatan rana, berikut adalah beberapa ilustrasi yang dapat membantu:
Setting shutter speed sebesar 500 dalam kamera anda berarti rentang waktu sebanyak 1/500 (seperlimaratus) detik. Ya, sesingkat dan sekilat itu. Sementara untuk waktu eksposur sebanyak 15 detik, kamu akan melihat tulisan seperti ini: 15’’

   Setting shutter speed di kamera anda biasanya dalam kelipatan 2, jadi kita akan melihat deretan seperti ini: 1/500, 1/250, 1/125, 1/60, 1/30 dst. Kini hampir semua kamera juga mengijinkan setting 1/3 stop, jadi kurang lebih pergerakan shutter speed yang lebih rapat; 1/500, 1/400, 1/320, 1/250, 1/200, 1/160 … dst.

  Untuk menghasilkan foto yang tajam, gunakan shutter speed yang aman. Aturan aman dalam kebanyakan kondisi adalah setting shutter speed 1/60 atau lebih cepat, sehingga foto yang dihasilkan akan tajam dan aman dari hasil foto yang berbayang (blur/ tidak fokus). Kita bisa mengakali batas aman ini dengan tripod atau menggunakan fitur Image Stabilization.

  Batas shutter speed yang aman lainnya adalah: shutter speed kita harus lebih besar dari panjang lensa kita. Jadi kalau kita memakai lensa 50mm, gunakan shutter minimal 1/60 detik. Jika kita memakai lensa 17mm, gunakan shutter speed 1/30 det.

  Perlu diingat, bahwa shutter speed tidak bisa berdiri sendiri. Dua kontrol kamera yang lain (aperture dan ISO) saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Selain itu, efek dari masing-masing kontrol tersebut juga berbeda-beda. Walaupun begitu, justru dengan adanya variasi tersebut, kita malah bisa berkreasi untuk membuat suatu foto yang unik, indah, dan luar biasa.

Fotografi Dasasr 1 Triangle Exposure - Segitiga Pencahayaan. (Aperture / Diafragma)

Diafragma pada Fotografi

dalam dunia fotografi, kita mengenal bagian dari kamera yang disebut dengan aperture atau diafragma. Definisi dari aperture atau diafragma adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (blade yang mengatur bukaan lensa) saat kita mengambil foto.

Saat kita menekan tombol shutter, lubang di depan sensor kamera kita akan membuka, nah setting aperture-lah yang menentukan seberapa besar lubang ini terbuka. Semakin besar lubang terbuka, makin banyak jumlah cahaya yang akan masuk terbaca oleh sensor.

Aperture atau bukaan dinyatakan dalam satuan f-stop. Sering kita membaca istilah bukaan/aperture 5.6, dalam bahasa fotografi yang lebih resmi bisa dinyatakan sebagai f/5.6. Seperti diungkap diatas, fungsi utama aperture adalah sebagai pengendali seberapa besar lubang didepan sensor terbuka. Semakin kecil angka f-stop berarti semakin besar lubang ini terbuka (dan semakin banyak volume cahaya yang masuk) serta sebaliknya, semakin besar angka f-stop semakin kecil lubang terbuka.



Jadi dalam kenyataannya, setting aperture f/2.8 berarti bukaan yang jauh lebih besar dibandingkaan setting f/22 misalnya (anda akan sering menemukan istilah fully open jika mendengar obrolan fotografer). Jadi bukaan lebar berarti makin kecil angka f-nya dan bukaan sempit berarti makin besar angka f-nya.


Memahami Depth of Field

Depth of field – DOF, adalah ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Depth of Field (DOF) yang lebar berarti sebagian besar obyek foto (dari obyek terdekat dari kamera sampai obyek terjauh) akan terlihat tajam dan fokus. Sementara DOF yang sempit (shallow) berarti hanya bagian obyek pada titik tertentu saja yang tajam sem
entara sisanya akan blur/ tidak fokus.

mdUntuk mendapatkan DOF yang lebar gunakan setting aperture yang kecil, misalkan f-22 (makin kecil aperture makin luas jarak fokus) – lihat contoh foto diatas. Sementara untuk mendapat DOF yang sempit, gunakan aperture sebesar mungkin, misal f/2.8 – lihat contoh foto dibawah.

Depth of Field ini akan banyak berguna terutama dalam fotografi portrait dan fotografi makro, namun sebenarnya semua spesialisasi akan membutuhkannya.

Sabtu, 17 Januari 2015

Sejarah Fotografi

 Sejarah fotografi tidak lepas dari penemuan kamera dan film. Dengan penemuan film, gambar dapat diproduksi, dan proses pencahayaan film tersebut terjadi di dalam kamera. Fotografi berasal dari istilah Yunani : phos yang berarti cahaya dan graphein yang berarti menggambar. Istilah tersebut pertama kali oleh Sir John Herschel pada tahun 1839. Jadi arti kata fotografi adalah menggambar dengan cahaya. Prinsip kerja yang paling mendasar dari fotografi sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Pada waktu itu telah diketahui bahwa apabila seberkas cahaya menerobos masuk melalui lubang kecil ke dalam sebuah ruangan yang gelap, maka pada dinding di hadapannya akan terlihat bayangan dari apa yang ada dimuka lobang. Hanya saja bayangan yang terlihat dalam keadaan terbalik. Ruangan seperti inilah yang disebut sebagai camera obscura ( camera : kamar, obscura : gelap). Dari sinilah lahir istilah Camera. Prinsip ini telah digunakan oleh ilmuwan Arab Ibnu al Haisan sejak abad ke-10. Lalu pada abad ke-15 Leonardo da Vinci, mencoba menguraikan kerja kamar gelap ini dengan lebih terperinci. Perkembangan selanjutnya kamera obscura ini menjadi alat bantu untuk membuat gambar bagi para seniman di Eropa. Penemuan teknik fotografi dalam satu hal telah mengurangi daerah gerak seni lukis, karena fotografi yang dengan cepat dan tepat mampu merekam objek itu menggantikan sebagian fungsi seni lukis yaitu fungsi dokumentasi dan fungsi penyajian presentasi realistik bagi objek-objeknya. Pada mulanya kamera ini tidak begitu diminati, karena cahaya yang masuk amat sedikit, sehingga bayangan yang terbentuk pun samar-samar. Pengguna-annya terutama masih untuk menggambar benda-benda yang ada di depan kamera. Penggunaan kamera ini baru populer setelah ditemukannya lensa pada tahun 1550. Dengan lensa pada kamera ini, maka cahaya yang masuk ke kamera dapat diperbanyak, dan gambar dapat dipusatkan, sehingga menggambar menjadi lebih sempurna. Tahun 1575 kamera portable yang pertama baru dibuat, dan penemuan kamera ini untuk menggambar makin praktis. Baru tahun 1680 lahir kamera refleks pertama, namun penggunaannya masih untuk meng- gambar, karena bahan baku untuk mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa selain dengan menggambar masih belum ditemukan. Jadi pada zaman tersebut kamera masih dipakai untuk mempermudah dalam menggambar. Dimana hasil dari kamera tersebut masi belum dapat direproduksi, karena belum ditemukannya film negatif. Sejarah penemuan film dimulai ketika orang berusaha untuk dapat mengabadikan benda yang berada di depan kamera, sudah mulai berkembang sejak abad ke-19, dengan adanya penemuan penting oleh Joseph Niepce, seorang veteran Perancis. Ia bereksperimen dengan menggunakan Aspal Bitumen Judea. Dengan pencahayaan 8 jam, ia berhasil mengabadikan benda yang berada di depan lensa kameranya menjadi sebuah gambar pada plat yang telah dilapisi bahan kimia tersebut. Namun melalui percobaan ini masih belum dapat membuat duplikat gambar. Kemudian lahirlah Collodion, bahan baku fotografi yang diperkenalkan oleh Frederick Scott Archer, dengan menggunakan kaca sebagai bahan dasarnya. Proses ini adalah proses basah. Bahan kimia kimia tersebut dilapiskan ke kaca, kemudian langsung dipasang pada kamera abscura, dan gambar yang dihasilkan menjadi lebih baik. Cara ini banyak dipakai untuk memotret diseluruh Eropa dan Amerika, sampai ditemukan bahan gelatin dan ditemukan bahan kimia yang dapat digunakan untuk proses kering. Tahun 1895, George Eastman membuat film gulung (roll Film) dengan bahan gelatin, yang dipakai untuk memotret (mengabadikan citra alam) sampai sekarang. Penemuan-penemuan tersebut di atas telah mempermudah kita dalam mengabadikan benda-benda yang berada di depan lensa dan memproduksinya, sehingga para fotografer, baik amatir maupun profesional dapat menghasilkan suatu karya seni tinggi, tanpa perlu terhalang oleh teknologi.Dalam era modernisasi fotografi menampakkan perkembangannya yang cukup besar dengan menampilkan fotografi digital, merekam gambar dengan sistem perpaduan teknologi komputer yang banyak dipergunakan sebagai alat penyimpan dokumentasi yang pengertiannya gambar atau pola, bentuk yang ingin dibuat arsip penyimpanannya melalui proses fotografi semi digital atau foto digital. Pada foto semi digital proses pemotretan, gambar masih direkam pada film yang berseluloid, kemudian film yang sudah merekam gambar diproses dan menghasilkan gambar kemudian diproses lagi melalui scanner menjadi data digital untuk di simpan dalam disket atau hardisk.